Dari Tlogomas, Agus Pelopori Swasembada Ayam Kampung Nasional

Bicara mengenai peternakan ayam di Kota Malang memang masih tergolong sedikit, tetapi meskipun begitu ternyata ayam kampung Kota Malang saat ini sudah menjadi idola di tingkat nasional. Adalah Agus Prayudi, warga Jl. Tlogomas Gang 8 C2 No. 9 Malang yang telah sukses mengembangkan ayam kampung dengan kualitas unggul, Kamis (03/07).

Berbeda dengan ayam kampung kebanyakan yang baru bisa dipanen saat usia ayam enam bulan sampai satu tahun, ayam kampung produksi peternakan Agus Prayudi sudah bisa dipanen saat usia ayam 60 hari. Rasa daging ayam kampung yang gurih, lezat, dan jauh lebih sehat dibanding ayam potong menjadi garansi ayam kampung dari Tlogomas ini bisa bersaing di pasar dan memikat hati masyarakat.

Yudi panggilan akrab Agus Prayudi mengungkapkan, ayam kampung unggul yang diproduksinya sudah dikembangkan sejak tahun 2008 dan akhir-akhir ini semakin kewalahan memenuhi permintaan. Dari 20.000 DOC (Day Old Chicken/anak ayam yang masih berusia 1-14 hari) yang diminta oleh pasar setiap pekan, pihaknya baru sanggup memenuhi permintaan sekitar 4.000 DOC saja per pekan.

“Semakin sadarnya masyarakat akan kesehatan, menjadikan beternak ayam kampung memiliki prospek cerah. Sebab berapapun produksi yang bisa dibuat, pasar selalu siap untuk menampung,” ujar Yudi, Kamis (03/07).

Yudi sebelumnya hanya menjadikan beternak ayam kampung ini sebagai pekerjaan sambilan saja, tetapi melihat prospek yang begitu cerah di bidang ternak ayam kampung, kini ia menjadikan ternak ayam ini menjadi penghasilan utamanya. Tidak hanya memproduksi DOC saja, lewat bendera usaha Pancamurti pria asli Tlogomas itu kini terus berekspansi.

Dari semula hanya berjualan anak ayam, kini Yudi juga mengembangkan usahanya dengan menjual telur ayam kampung untuk konsumsi, telur ayam kampung tetas, mesin penetas telur, induk ayam kampung, dan juga daging ayam kampung. Dari semula yang hanya menangani semua pekerjaan sendiri, kini telah berkembang dan memiliki lima orang pekerja. Dan setelah enam tahun berlalu, saat ini Yudi sudah memiliki sebanyak lebih dari 100 peternak binaan.

Yudi menjelaskan bahwa selain masalah pakan dan kondisi lingkungan, kesuksesan beternak ayam kampung tidak lepas dari ketersediaan bibit yang bagus. Dari berbagai usaha yang dilakukan, kini pihaknya sudah menemukan penyilangan ayam kampung yang pas sehingga bisa membuat ayam kampung bisa cepat besar, bertelur banyak, dan indukan yang tidak pernah mengeram seperti biasa terjadi di ayam kampung.

“Kalau ayam kampung biasa dalam setahun produksinya antara 60-70 butir, ayam kampung yang kami pelihara telurnya bisa mencapai 200-300 butir karena ayamnya tidak pernah mengeram,” terang Yudi.

Kalau ayam kampung biasa membutuhkan waktu sekitar enam bulan baru bisa berbobot 7 ons, dengan bibit yang diproduksi oleh Yudi, dua bulan saja ayam kampungnya sudah berbobot 7 ons sampai 1,5 kg. Begitu singkatnya usia ayam sudah bisa langsung dijual ke rumah makan, restoran, atau supermarket membuat peluang untuk beternak ayam unggul warga Tlogomas ini bisa cepat untung.

Berkat konsistensinya menyediakan bibit ayam kampung unggul, Yudi saat ini tidak hanya mendapat banyak pelanggan dari daerah Jawa Timur saja. Bibit ayam produksinya sudah menyebar ke berbagai penjuru Indonesia. “Saya berharap dengan bisa memproduksi ayam kampung unggul, saya bisa membantu usaha pemerintah untuk membuat Indonesia swasembada ayam,” pungkas Yudi. (cah/yof)

Sumber: http://mediacenter.malangkota.go.id/2014/07/dari-tlogomas-pelopori-swasembada-ayam-kampung-nasional/

Bagikan informasi ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *